"Reality Bites": Momen Kebenaran Saat Karya Mahasiswa Bertemu Wisatawan Asli
Mata kuliah Desain Grafis Dasar tidak berakhir ketika tombol "Save" ditekan atau saat file dikirimkan ke dosen. Puncak pembelajaran sesungguhnya justru terjadi pada tahap akhir yang sering kali mendebarkan: Evaluasi Implementasi Proyek di Tempat Wisata. Dalam fase ini, mahasiswa diajak keluar dari kenyamanan studio berpendingin ruangan menuju lokasi wisata riil untuk melakukan audit visual, menyaksikan secara langsung apakah konsep branding, signage, atau peta wisata yang mereka rancang benar-benar berfungsi atau justru menambah kebingungan pengunjung.
Evaluasi ini adalah sebuah "tamparan realitas" yang sehat bagi desainer muda. Di layar monitor, warna kuning neon mungkin terlihat catchy dan modern, namun saat dipasang di bawah terik matahari atau di tengah rimbunnya pepohonan lokasi wisata alam, warna tersebut bisa jadi "mati" atau sulit terbaca. Mahasiswa belajar mengevaluasi faktor-faktor lingkungan yang sering luput dari prediksi, seperti jarak pandang, pantulan cahaya material, hingga durabilitas media terhadap cuaca. Mereka mencatat setiap ketidaksesuaian antara rencana digital dan eksekusi fisik, mengubah asumsi-asumsi teoritis menjadi data empiris yang berharga.
Selain aspek teknis, evaluasi ini juga menyoroti aspek User Experience (UX) secara langsung. Mahasiswa dituntut untuk menjadi pengamat diam-diam, melihat bagaimana wisatawan berinteraksi dengan karya mereka. Apakah wisatawan berhenti dan membaca papan informasi sejarah yang telah didesain? Atau mereka melewatinya begitu saja karena layout-nya terlalu padat teks? Apakah piktogram toilet yang dibuat sudah cukup universal, atau justru membuat orang ragu? Kritik terjujur tidak datang dari dosen, melainkan dari respons natural para wisatawan. Jika desain tersebut gagal memandu atau gagal menarik perhatian, mahasiswa harus menganalisis letak kesalahannya—apakah pada hierarki visual, penempatan lokasi, atau pemilihan bahasa visual yang kurang kontekstual.
Melalui proses evaluasi lapangan ini, Program Studi Desain Grafis ingin menanamkan pola pikir bahwa desain yang baik adalah desain yang berempati pada konteks dan penggunanya. Kami berharap pengalaman langsung ini membuat mahasiswa lebih peka dan rendah hati; menyadari bahwa estetika hanyalah kulit luar, sementara fungsi dan keterbacaan di dunia nyata adalah jantung utamanya. Ke depannya, hasil evaluasi ini akan menjadi bekal krusial bagi mereka untuk merancang solusi visual yang tidak hanya indah di portofolio, tetapi juga tangguh dan berdampak di ruang publik.
For more information about Graphic Design Study Program : https://terapan-desain.vokasi.unesa.ac.id/
For more information about Faculty of Vocational Studies : https://vokasi.unesa.ac.id/
For more information about Universitas Negeri Surabaya : https://www.unesa.ac.id/