Coding Tanpa Desain Hanyalah Angka: Mengapa Human-Centered Computing Jadi Masa Depan Desainer Grafis?
Di tengah hiruk pikuk diskusi akademis pada Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025 yang dihelat di UNESA, sebuah perspektif menarik muncul dari paparan Fakultas Teknologi Informasi (FIT) Monash University. Meskipun presentasi tersebut sarat dengan istilah teknis seperti Data Science, Artificial Intelligence (AI), dan Cybersecurity, terdapat satu irisan krusial yang menjadi jembatan emas bagi mahasiswa Desain Grafis: Human-Centered Computing. Paparan ini menegaskan bahwa ribuan baris kode dan algoritma canggih tidak akan memiliki dampak sosial yang maksimal (Research Impact) tanpa antarmuka dan visualisasi yang mampu dipahami oleh manusia sebagai penggunanya.
Dokumen yang dipresentasikan menyoroti struktur riset Monash yang tidak hanya berkutat pada software systems, tetapi juga sangat kuat pada Digital Health dan Climate Change. Ambil contoh proyek "PAIR Sulawesi" yang membahas perubahan iklim dan masyarakat pesisir. Data meteorologi yang rumit dan prediksi cuaca berbasis algoritma tidak akan berguna bagi nelayan atau pembuat kebijakan jika hanya disajikan dalam bentuk raw data. Di sinilah desainer grafis berperan sebagai komunikator visual. Melalui Data Visualization dan perancangan User Experience (UX) aplikasi pemantauan cuaca yang intuitif, desainer mengubah data abstrak menjadi informasi yang menyelamatkan nyawa dan mata pencaharian.
Lebih jauh, fokus Monash pada "Digital Health" dan kolaborasinya dengan berbagai rumah sakit (seperti Alfred Health dan Apollo Hospitals) membuka mata kita bahwa desain grafis adalah bagian vital dari ekosistem kesehatan modern. Ketika insinyur perangkat lunak membangun sistem rekam medis berbasis AI, desainer grafis-lah yang merancang antarmuka (interface) agar dokter tidak salah membaca diagnosa, atau agar pasien lansia dapat menggunakan aplikasi kesehatan dengan mudah (accessibility). Dalam konteks ini, estetika bukan lagi sekadar soal keindahan, melainkan soal fungsi, kejelasan, dan empati. Desain grafis bertransformasi menjadi Human-Centered Design, memastikan teknologi canggih tersebut benar-benar "memanusiakan" penggunanya.
Ke depannya, batas antara fakultas ilmu komputer dan program studi desain grafis harus semakin tipis. Mahasiswa desain grafis tidak boleh lagi hanya nyaman bermain dengan tipografi dan ilustrasi di atas kanvas kosong, tetapi harus mulai berani berkolaborasi dengan mahasiswa IT untuk menerjemahkan Big Data menjadi cerita visual yang berdampak. Sinergi antara ketajaman analisis data dan kepekaan visual inilah yang akan melahirkan inovasi yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga menyentuh hati dan relevan bagi masyarakat luas.
For more information about Graphic Design Study Program : https://terapan-desain.vokasi.unesa.ac.id/
For more information about Faculty of Vocational Studies : https://vokasi.unesa.ac.id/
For more information about Universitas Negeri Surabaya : https://www.unesa.ac.id/