"Menjadi Detektif Visual": Mengapa Riset Adalah Senjata Rahasia Desainer Grafis
Sebelum satu garis pun ditarik di atas kertas atau satu piksel pun diwarnai di layar monitor, mata kuliah Desain Kemasan menuntut mahasiswa untuk meletakkan "topi seniman" mereka dan menggantinya dengan "topi detektif". Fase ini dikenal sebagai riset pradesain, sebuah tahapan krusial di mana mahasiswa tidak diminta untuk menggambar, melainkan untuk mengamati, bertanya, dan menganalisis data. Mahasiswa diajarkan bahwa desain kemasan yang sukses bukanlah hasil dari intuisi semata, melainkan buah dari pemahaman mendalam terhadap medan perang pasar yang sesungguhnya.
Dalam proses ini, ruang kelas bertransformasi menjadi ruang strategi. Mahasiswa diwajibkan melakukan visual audit atau audit visual dengan terjun langsung ke supermarket atau pasar swalayan. Mereka memotret rak-rak toko untuk memetakan keberadaan kompetitor: Warna apa yang mendominasi kategori produk tersebut? Jenis tipografi apa yang usang dan mana yang sedang tren? Jika semua pesaing keripik pedas menggunakan warna merah menyala, mahasiswa ditantang untuk berpikir kritis berdasarkan data tersebut: apakah mereka harus ikut menggunakan warna merah agar dikenali sebagai produk pedas, atau justru menggunakan warna hitam atau hijau neon untuk menciptakan disrupsi visual (visual disruption)?
Selain analisis kompetitor, riset pradesain juga berfokus pada pembedahan target audiens melalui metode User Persona. Mahasiswa belajar bahwa data demografis seperti "Pria, 20-25 tahun" saja tidak cukup. Mereka harus menggali aspek psikografis: Apa hobi target pasar ini? Musik apa yang mereka dengarkan? Di mana mereka nongkrong? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi landasan logis bagi setiap keputusan desain. Jika targetnya adalah Gen Z yang sadar lingkungan, maka desain yang bersih, jujur, dan penggunaan material eco-friendly menjadi sebuah keharusan, bukan sekadar pilihan estetika. Riset ini mengubah desain dari sekadar "selera pribadi desainer" menjadi solusi objektif yang bisa dipertanggungjawabkan.
Melalui penanaman budaya riset yang kuat ini, Program Studi Desain Grafis berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya piawai secara teknis, tetapi juga tajam secara analitis. Kami ingin para desainer masa depan ini mampu mempresentasikan karya mereka di hadapan klien dengan argumen berbasis data, bukan sekadar argumen "karena ini terlihat bagus". Dengan fondasi riset yang kokoh, desain kemasan yang dihasilkan diharapkan mampu menjawab permasalahan klien secara presisi dan memenangkan hati konsumen dengan strategi yang terukur.
For more information about Graphic Design Study Program : https://terapan-desain.vokasi.unesa.ac.id/
For more information about Faculty of Vocational Studies : https://vokasi.unesa.ac.id/
For more information about Universitas Negeri Surabaya : https://www.unesa.ac.id/