Menavigasi Riset Berdampak: Mampukah Desain Grafis Menerapkan Model Backshock Process Prof. Wenten?
Surabaya - Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi (KPPTI) 2025 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjadi platform penting bagi Prodi Desain Grafis untuk mendalami tren riset masa depan. Sesi yang paling menarik perhatian adalah presentasi utama dari Prof. Ir. I G. Wenten, M.Sc., Ph.D., yang kini menjabat sebagai Anggota Dewan Pengarah BRIN dan Staf Khusus Mendiktisaintek. Dalam paparannya yang berjudul "DAMPAK: Integrasi Ilmu Pengetahuan, Inovasi, dan Transformasi Sosial dalam Ekosistem Penelitian Indonesia," Prof. Wenten membedah tiga dimensi dampak riset dan memperkenalkan konsep revolusioner: The Backshock Process.
Tiga Dimensi Dampak Riset dan Peran Strategis Desain
Dalam konteks Desain Grafis yang sering berada di persimpangan seni, teknologi, dan pasar, paparan Prof. Wenten tentang dimensi dampak riset menjadi sangat relevan. Beliau membagi dampak riset ke dalam tiga kategori utama:
Dampak Saintifik (Scientific Impact): Di ranah Desain Grafis, ini diwujudkan melalui penelitian yang menghasilkan metodologi visual baru, model komunikasi inovatif, atau studi validasi efektivitas media.
Dampak Sosietal (Societal Impact): Desain Grafis berperan kuat di sini, misalnya melalui perancangan Alat Permainan Edukatif (APE) mitigasi bencana (seperti yang dilakukan mahasiswa Unesa baru-baru ini), kampanye visual untuk kesehatan publik, atau visual literacy untuk masyarakat rentan.
Dampak Ekonomi dan Kebijakan (Economic & Policy Impact): Ini adalah tantangan terbesar bagi Desain Grafis. Dampak ekonomi tercermin dari keberhasilan komersialisasi desain (seperti Vocamerch mahasiswa) dan paten desain. Desain juga dapat memengaruhi kebijakan melalui visualisasi data yang kuat untuk pembuat keputusan.
Prof. Wenten sendiri adalah contoh nyata integrasi riset berdampak, di mana hasil riset doktoralnya di bidang teknologi membran berhasil dipatenkan di Amerika (US5560828) dan dikomersialkan oleh industri, menjadikannya pakar terkemuka di dunia.
Mendalami The Backshock Process dalam Industri Kreatif
Inti dari visi Prof. Wenten adalah The Backshock Process. Konsep ini mengajarkan bahwa riset yang sukses tidak hanya berhenti di publikasi ilmiah (Q1), tetapi harus mampu menciptakan kejutan balik (backshock) pada industri, yang kemudian mengadopsi dan mengaplikasikan inovasi tersebut, bahkan hingga menjadi paten global.
Lantas, bagaimana Desain Grafis dapat menerapkan Backshock Process ini?
Dari Publikasi ke Proyek Desain Teruji: Desainer Grafis harus mulai memublikasikan temuan riset tentang efektivitas desain (misalnya: bagaimana color psychology memengaruhi konversi e-commerce) di jurnal ilmiah.
Menciptakan Kejutan Balik: Inovasi desain tidak hanya indah, tetapi harus memecahkan masalah fundamental industri (misalnya, membuat interface yang begitu intuitif sehingga mengubah standar UX/UI global).
Komersialisasi dan Paten: Desain Grafis harus berani mematenkan aset intelektualnya—bukan hanya desain logo, tetapi metode branding, motion graphics yang inovatif, atau sistem visual interaktif. Hal ini akan meningkatkan nilai tawar profesi desainer.
Desain Grafis: Ujung Tombak Inovasi Berdampak
Prodi Desain Grafis Unesa berkomitmen menjadikan mata kuliah Riset Desain dan Kewirausahaan sebagai laboratorium untuk menghasilkan karya yang tidak hanya artistik, tetapi juga memenuhi kriteria dampak saintifik, sosietal, dan ekonomi yang disuarakan oleh Prof. Wenten.
Dengan mengadopsi semangat The Backshock Process, diharapkan mahasiswa D4 Desain Grafis Unesa mampu menghasilkan inovasi desain yang tidak hanya unggul secara visual, tetapi juga memberikan kejutan positif—berupa added value yang signifikan—bagi industri, masyarakat, dan kebijakan di masa depan.
For more information about Graphic Design Study Program : https://terapan-desain.vokasi.unesa.ac.id/
For more information about Faculty of Vocational Studies : https://vokasi.unesa.ac.id/
For more information about Universitas Negeri Surabaya : https://www.unesa.ac.id/