"Garbage In, Garbage Out": Mengapa Kualitas Data Menentukan Hasil Akhir Desain
Sering kali kita melihat seorang desainer grafis pemula mengalami kemacetan ide (creative block) atau menghasilkan karya yang secara estetika indah namun gagal menyampaikan pesan. Akar permasalahan ini biasanya bukan terletak pada kurangnya kemampuan teknis, melainkan pada kekosongan data sebelum proses perancangan dimulai. Dalam mata kuliah Desain Grafis Dasar minggu ini, mahasiswa diajak menyelami fase "pra-produksi" yang sering dianggap membosankan namun vital: Mengumpulkan Data Verbal dan Visual. Fase ini menegaskan bahwa seorang desainer bekerja layaknya seorang detektif yang harus mengumpulkan bukti dan fakta sebelum menarik kesimpulan visual.
Proses desain tidak bermula di kanvas kosong perangkat lunak, melainkan bermula dari tumpukan data. Data verbal adalah kompas logika kita; ini mencakup creative brief, visi misi klien, profil target audiens, hingga kata kunci (keywords) yang mewakili citra produk. Tanpa data verbal yang kuat, desain kehilangan arah. Mahasiswa dilatih untuk membedah teks-teks abstrak ini—misalnya mengubah kata sifat "elegan" dan "modern"—menjadi parameter yang terukur. Apakah "elegan" berarti menggunakan warna emas dan hitam? Atau apakah itu berarti ruang kosong (white space) yang luas? Penerjemahan data verbal inilah yang menjadi fondasi argumen desain.
Di sisi lain, pengumpulan data visual berfungsi sebagai peta medan pertempuran. Mahasiswa dituntut untuk melakukan observasi terhadap kompetitor, tren warna, gaya tipografi, hingga referensi fotografi yang relevan (moodboard). Riset visual ini bukan bertujuan untuk meniru (plagiasi), melainkan untuk memahami standar industri dan mencari celah diferensiasi. Jika semua kompetitor keripik pedas menggunakan warna merah menyala, data visual ini memberi petunjuk bagi desainer: apakah kita akan ikut arus atau justru mendobrak pasar dengan warna kontras seperti hitam atau kuning neon? Sinergi antara data verbal yang logis dan data visual yang inspiratif inilah yang akan mencegah prinsip Garbage In, Garbage Out—jika data yang masuk sampah, maka luaran desainnya pun akan menjadi sampah.
Melalui pendalaman materi ini, target utama Program Studi Desain Grafis adalah mencetak lulusan yang bekerja berbasis riset (research-based designer). Ke depannya, kami berharap mahasiswa tidak lagi mengandalkan "firasat" semata dalam memilih elemen desain, tetapi mampu menyajikan karya yang setiap garis dan warnanya dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan data yang valid. Dengan kemampuan riset yang matang, desainer grafis tidak hanya berperan sebagai eksekutor visual, tetapi sebagai konsultan komunikasi yang solutif.
For more information about Graphic Design Study Program : https://terapan-desain.vokasi.unesa.ac.id/
For more information about Faculty of Vocational Studies : https://vokasi.unesa.ac.id/
For more information about Universitas Negeri Surabaya : https://www.unesa.ac.id/