"Ego vs Data": Mengapa Desainer Harus Siap 'Membunuh' Karya Sendiri di Tahap Pengujian
Momen kebenaran (Moment of Truth) akhirnya tiba dalam rangkaian mata kuliah Digital Media. Setelah melewati fase perancangan struktur dan simulasi interaksi, mahasiswa Program Studi Desain Grafis kini memasuki Tahap 3 pengembangan prototipe: Evaluasi dan Pengujian (Usability Testing). Di fase ini, laptop tidak lagi hanya menampilkan desain yang cantik, tetapi menjadi alat uji untuk membuktikan apakah solusi visual yang ditawarkan benar-benar memecahkan masalah atau justru membingungkan pengguna. Mahasiswa ditantang untuk menyingkirkan ego artistik mereka dan membiarkan data berbicara melalui sesi pengujian langsung terhadap target audiens.
Dalam proses ini, mahasiswa mengundang partisipan eksternal untuk mencoba prototipe aplikasi yang telah mereka bangun. Mereka tidak diperbolehkan memandu atau memberikan petunjuk, melainkan hanya mengobservasi bagaimana pengguna berinteraksi dengan antarmuka tersebut. Seringkali terjadi momen yang membuka mata: tombol yang menurut desainer sudah sangat jelas, ternyata tidak terlihat oleh pengguna; atau alur navigasi yang dirasa logis, justru membuat pengguna tersesat. Mahasiswa belajar melakukan Heuristic Evaluation, menilai desain mereka berdasarkan standar kegunaan industri, serta mencatat setiap "titik rasa sakit" (pain points) yang dialami pengguna. Ini adalah latihan kerendahan hati untuk menerima bahwa desain mereka belum sempurna.
Hasil dari pengujian ini kemudian diolah menjadi bahan bakar untuk proses Iterative Design atau desain berulang. Mahasiswa kembali ke meja kerja, membongkar ulang tata letak yang gagal, mengubah ukuran tipografi yang sulit dibaca, atau menyederhanakan alur yang terlalu rumit. Mereka memahami bahwa desain digital bukanlah produk seni murni yang statis, melainkan solusi yang dinamis dan harus terus berevolusi berdasarkan umpan balik nyata. Revisi bukanlah tanda kegagalan, melainkan bukti kepedulian desainer terhadap kenyamanan penggunanya.
Melalui simulasi siklus desain yang lengkap ini—dari konsep hingga evaluasi—Program Studi Desain Grafis berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya piawai secara visual, tetapi juga matang secara emosional dan analitis. Harapannya, para calon desainer ini kelak akan terjun ke industri sebagai pemecah masalah yang berbasis data (data-driven designer), yang mampu menciptakan produk digital yang tidak hanya memukau mata, tetapi juga benar-benar berfungsi dan dicintai oleh penggunanya.
For more information about Graphic Design Study Program : https://terapan-desain.vokasi.unesa.ac.id/
For more information about Faculty of Vocational Studies : https://vokasi.unesa.ac.id/
For more information about Universitas Negeri Surabaya : https://www.unesa.ac.id/